Tribun

Loading...

Minggu, 22 Agustus 2010

Riedl Ingin Datangkan Habel Satya

Liga Indonesia-Muka baru kembali akan menghiasi pemusatan latihan tim nasional yang kini berlangsung di Senayan, Jakarta. Itu setelah pelatih timnas, Alfred Riedl rencananya akan memanggil pemain Persiwa Wamena, Habel Satya.

Pemusatan latihan (TC) tahap pertama sejatinya akan diikuti oleh 26 pemain. Namun Riedl terpaksa mencoret dua nama, yakni Boaz Solossa dan Ian Kabes karena tak kunjung menunjukkan batang hidungnya dan sulit dihubungi.

Saat ditemui usai memimpin pasukannya latihan di lapangan Timnas, Senayan, Riedl mengaku tak akan mencari pengganti kedua pemain itu. Namun rencananya, dia akan memanggil Habel untuk dilihat kemampuannya.

"Kami tidak sedang mencari pengganti Boaz dan Kabes. Namun malam ini saya akan menghubungi Habel Satya untuk memintanya datang ke Jakarta," kata Riedl didampingi oleh asistennya Wolfgang Pikal, Sabtu, 21 Agustus 2010.

Riedl menambahkan, pemanggilan Habel merupakan rekomendasi kedua asistennya, Pikal dan Widodo C Putro. Dia sendiri mengaku belum mengetahui permainan pemain kelahiran 12 September 1987 itu.

"Saya sama sekali belum tahu kualitasnya. Habel merupakan rekomendasi asisten-asisten saya dan saya akan mencoba melihat kemampuannya dalam latihan," kata Riedl.

"Dalam satu pekan mendatangan, kami mungkin akan mengganti satu atau dua pemain lagi. Namun ini masih belum pasti," lanjut pelatih asal Austria itu.

Pemusatan latihan tahap pertama merupakan salah satu rangkaian persiapan timnas senior dalam menghadapi Piala AFF 2010, Desember mendatang. TC telah digelar sejak 1 Agustus dan akan berakhir pada 7 September 2010.

Selain melakoni latihan rutin, Nova Arianto cs rencananya hanya akan menjalani sekali uji coba di bulan Ramadan.  Calon lawannya juga hanya sekelas tim lokal Jakarta saja.

"Tidak mungkin menggelar uji coba resmi pada saat Ramadan. Kemungkinan hanya ada satu uji coba saja lawan tim lokal," tandas Riedl.

Penunjukan Manajer Baru Persija Bermasalah

Liga Indonesia-Penunjukan Effendi Anas sebagai manajer baru Persija berbuntut panjang. Manajer lama, Harjanto Badjoeri menilai Kepala Satpol PP DKI Jakarta itu tidak sesuai aturan yang berlaku di Persija.

"Saya berharap status manajemen Persija tidak jadi polemik yang berlarut-larut. Saya tegaskan tidak ada perubahan komposisi manajemen," kata Badjoeri kepada wartawan di Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu, 21 Agustus 2010.

Sebelumnya, Ketua Umum Persija, Toni Tobias mengangkat Effendi sebagai manajer baru Persija menggantikan. Toni meminta Effan-panggilan akrab Effendi Anas-menggantikan peran Badjoeri melalui Surat Keputasan (SK) bernomor 177/KPT/KU/Sekr/VIII/2010.

Langkah ini menurut Badjoeri tidak sesuai aturan. Pasalnya, yang boleh melakukan pergantian manajemen di tubuh Macan Kemayoran hanyalah pemilik Macan Kemayoran dalam hal ini Pemda DKI Jakarta melalui Gubernur, Fauzi Bowo.

"Saya sudah bertemu gubernur dan dia tidak tahu menahu tentang situasi ini. Penandatangan surat keputusan yang dikeluarkan Toni Tobias sama sekali tidak sesuai aturan," tegas mantan Kepala Satpol PP DKI Jakarta itu.

Barjoeri sendiri diangkat menjadi manajer Persija melalui SK bernomor 144.Persija.Liga.SK.XI.2006. Serah terima status manajer dari Firman Hutajulu kepada Badjoeri dilakukan pada 27 November 2006 lalu.

"Saya kaget karena diberhentikan oleh Toni Tobias. Organisasi Persija berbeda dengan lainnya. Yang berhak mengganti manajemen adalah pemilik klub dalam hal ini Pemda DKI Jakarta melalui gubernur," kata Badjoeri.

"Jadi SK yang dikeluarkan Toni Tobias tidak sah. Tidak ada dasar hukum yang melatarbelakanginya. SK penunjukan saya juga belum dicabut, Effan itu teman saya, jadi jangan sampai Toni Tobias seenaknya mengeluarkan SK," tegas Badjoeri.

Badjoeri sendiri tidak memungkiri kalau kepemimpinannya memang belum membuahkan prestasi bagi Macan Kemayoran. Musim lalu, Persija hanya mampu finish di urutan kelima Liga Super Indonesia (ISL) dan kandas di babak 8 besar Piala Indonesia.

"Saat ini saya sudah tidak sesibuk sebelumnya. Kami siap membesarkan Persija dan mewujudkan target juara musim depan," tandasnya.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Bersatulah Supporter Indonesia

Supporter Damai Indonesia
Tribun – Tak dapat dipungkiri bahwa tanpa adanya supporter, persepakbolaan manapun takkan pernah bisa untuk maju. Begitupun di Indonesia, dengan tanpa adanya dukungan dari supporter, wajah persepakbolaan Nasional takkan menarik. Meskipun begitu, yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya. Supporter klub-klub di Indonesia terkesan lebih banyak menimbulkan dan membawa dampak ke arah negatif ketimbang ke arah positifnya terhadap prestasi sepakbola Nasional. Memang, permasalahan supporter bukanlah satu-satunya penyebab kurang berkembangnya persepakbolaan dalam negeri. Kurangnya pembinaan terhadap para pemain muda lokal, kepengurusan PSSI yang dinilai kurang optimal, fasilitas sarana dan prasarana yang kurang memadai pun serta merta menjadi faktor penyebabnya. 
Tapi dalam tulisan ini gw hanya menekankan tentang permasalahan supporter, karena itulah ruang lingkup gw sebagai supporter. Sepakbola takkan pernah dapat lepas dari yang namanya supporter. Gw sebagai pecinta sepakbola Nasional, sangatlah prihatin dengan kondisi persepakbolaan Indonesia yang tak kunjung membaik serta mendapatkan prestasi dalam kancah Asia maupun Internasional. Gw pun sangat sedih dan miris melihat, mendengar dan menyaksikan permasalah supporter klub-klub di Indonesia yang makin tahun makin memburuk.

Saat ini wajah supporter klub-klub di Indonesia bak Perang Dunia, dimana adanya Blok Barat dan Blok Timur, “Musuh Kawan adalah Lawan”. Hhmmm… Misalnya perseteruan antara Aremania dan Bonek, The Jakmania dan Bonek, LA Mania dan Bonek. Memang Aremania, The Jakmania dan LA Mania dikenal akur. Adapula permusuhan antara The Jak dan Viking, The Jak dan NJ, The Jak dan Bonek. Awalnya, perseteruan itu hanyalah melibatkan The Jakmania dan Viking, mungkin karena Viking, Bonek dan NJ akur, apakah harus bersekongkol untuk saling memusuhi??? Sampai kapankah situasi seperti ini akan berakhir???
Disini gw tak memihak kepada supporter manapun, ya meskipun gw Jakmania yang otomatis tak suka jika ada yang melecehkan PERSIJA dan JAKMANIA. Yang gw mau yakni bersatunya seluruh supporter Indonesia, saling bergandeng tangan dibawah bendera Merah Putih untuk bersama–sama memajukan persepakbolaan Tanah Air. Mungkin dengan terwujudnya persatuan antar supporter di Indonesia akan dapat menyadarkan para pengurus PSSI serta menjadi cambuk bagi para pemain Timnas bahwa KITA haus akan kemenangan dan prestasi Timnas. Memanglah sangat tak mudah untuk menyatukan tekad, butuh kesadaran dari masing-masing supporter bahwa supporter manapun sama saja, sama-sama bernaung dibawah Sang Garuda.

Tak inginkah kita melihat dan menyaksikan tim kesayangan kita berlaga diluar kandang s’lalu dengan rasa man dan nyaman? Tanpa adanya gesekan antar supporter? Tiap insan supporter pasti mengharapkan impian itu cepat terjadi. Sudahilah semua permusuhan antar supporter ini, kita harus berani melangkah maju untuk mewujudkan suasana sepakbola yang professional , terkendali serta enak ditonton. Semuanya harus dimulai dari sekarang juga, tak ada kata terlambat untuk memulai. Tunjukkanlah rasa nasionalisme dan patriotisme pada Timnas Merah Putih, tak ada yang lebih penting yang harus kita bela selain Timnas. Hilangkanlah rasa ego masing-masing, mengalah demi hari esok yang lebih baik tak ada salahnya.

Salam Damai
Seluruh Supporter Indonesia
1 Hati 1 Jiwa 1 Bendera
Merah Putih Tercinta
-Jumroni Jakmania Cariu BogoRaya- Jakmania.ORG

Apakah Pesepak Bola Muslim Eropa berpuasa?

Tribun-Bulan Ramadan kali ini jatuh hanya sekitar empat hari sebelum kompetisi sepak bola di Eropa bergulir. Liga Inggris sudah memulai pembukaan kompetisi dengan ajang Community Shield. Belanda, Prancis dan Jerman sudah berjalan. Sementara Italia dan Spanyol akan segera berjalan dalam dua pekan mendatang. 

Stadion

Seperti diketahui, banyak pula pesepak bola Muslim yang merumput di Eropa. Sebut saja di Spanyol ada Frederic Kanoute, di Italia ada Mohammed Sissoko, Sulley Muntari, sementara di Inggris ada Nicolas “Bilal” Anelka, Robin Van Persie, Kolo dan Yaya Toure, dan di Jerman ada Franck Ribery. Apakah mereka menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan di tengah-tengah kompetisi yang keras dan sangat memeras fisik dan emosi itu?

Franck Ribery

Frank Ribery

Beberapa tahun ke belakang, di awal kemunculannya Ribery digadang-gadang akan bisa seperti Zinedine Zidane. Selain juga sama-sama berasal dari Prancis, keduanya juga Muslim. Zidane selama kariernya dianggap sebagai pesepak bola yang berhasil mempresentasikan seorang Muslim. Ingat insiden tandukan mautnya kepada Marco Materrazzi ketika Prancis berduel dalam final Piala Dunia 2006 di Jerman? Konon, itu karena Materrazzi menghina ibu dan saudara perempuan Zidane yang merupakan Muslimah. Ketika Zidane pensiun, Ribery diharapkan bisa meneruskan jejak Zidane.
Tapi bagaimana kenyataannya? Ketika Bayern Muenchen, klubnya saat ini, juara Bundesliga, Ribery juga ternyata ikut meminum bir perayaan dengan rekan-rekannya. Yang terbaru yang paling hangat, Ribery dijerat oleh kepolisian Prancis karena memakai jasa pelacur di bawah umur. Ia banyak dicerca dan dihujat. Jadi, Ribery puasa Ramadan? Wallohu alam bi shawwab.

Sulley Muntari dan Mohammed Sissoko

Sujud Syukur Sulley Muntari 

Seri A Italia menyumbang dua pesepak bola Muslim yang cukup terkenal. Keduanya berasal dari Afrika, namun berbeda klub. Muntari dari Ghana merumput bersama Inter Milan, dan Sissoko di Juventus, dua klub besar Italia yang menjadi rival berat. Musim lalu, selama Ramadan, Jose Mourinho—pelatih Inter saat itu, dan kini ke Real Madrid—sering mempermasalahkan penampilan Muntari yang out of form di lapangan karena Muntari tengah melaksanakan puasa.

Sissoko

Sedangkan Sissoko acap kali diganti oleh pelatihnya di babak kedua, jika Juventus bertanding, dengan alas an agar ia tak batal puasanya.

Kolo Toure dan Nicolas Anelka

Kolo Toure

Keduanya bermain di Premiere League Inggris. Toure sebagai kapten Manchester City dan Anelka penggedor di Chelsea, juara liga musim lalu. Toure, yang berasal dari Pantai Gading tidak pernah menyembunyikan identitasnya sebagai seoarang Muslim. Jika Ramadan datang namun pas musim kompetisi, semasa di Arsenal, Toure masih tetap berusaha berpuasa. Namun ia mengakui jika tak tahan karena pertandingan menguras fisik, Toure dengan berat hati membatalkan puasanya. “Tapi saya pasti akan menggantinya di hari dan atau di bulan yang lain. Itu konsekuensi sebagai seorang Muslim,” ujarnya.

Anelka

Sedangkan Anelka adalah seorang mualaf. Setiap kali ia membuat gol, selebrasinya adalah mendekapkan tangannya di dadanya seperti orang yang tengah salat. Menurutnya itu sebagai rasa syukur dia sebagai seorang Muslim. Seperti diketahui, sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai pemain bengal, berseteru dengan sesama pemain dan terhadap pelatih, hingga tak heran ia banyak didepak oleh klub-klub sebelumnya. Sebut saja Arsenal, Real Madrid, dan Liverpool. Belum lagi klub-klub menengah yang pernah dibelanya semacam Man City atau Fenerbahce. Setiap Ramadan datang, Anelka berusaha keras untuk selalu puasa.

Frederic Kanoute
Frederic Kanoute

Inilah sosok pesepak bola Muslim yang bisa dikatakan seorang Muslim yang taat. Kanoute, asal Mali dan bermain di Sevilla—klub papan atas Spanyol—selalu tak pernah lalai menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Kapanpun dan dimanapun ia bertanding, jika pas waktu salat, maka ia akan melaksanakan salat di ruang ganti sekalipun pada jeda pertandingan. Kemudian ia pun meminta jersey (kostum) khusus ketika klubnya disponsori oleh sebuah rumah judi. Ia juga membeli sebuah masjid di Sevilla, ketika masjid itu tak ada lagi yang mampu membiayainya. Yang paling terkenal adalah dukungannya kepada Palestina. Ketika Gaza dibom oleh Israel satu tahun yang lalu, dalam salah satu selebrasinya, ia membuka jerseynya dan memperlihatkan kaus dalamnya yang berwarna hitam dan berisi tulisan Palestina dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Arab.
Setiap Ramadan, seberat apapun pertandingan di Liga Spanyol, Kanoute tak pernah membatalkan puasanya. Dan ia tetap menjadi goal-getter yang mumpuni. (sa/berbagaisumber/eramuslim)

Memaknai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Tribun-Merah putih berkibar di mana–mana. Di gang, gapura, pergulo dan pagar rumah sepanjang mata memandang. Demikian juga gapura, berdiri di hampir setiap ujung gang, dengan bertuliskan; Dirgahayu RI ke 65. 

Selamat Hari Kemerdekaan Bangsaku

Tak kalah juga dengan umbul–umbul. Banyak dan meriah. Gedung, pasar, kantor, dan sebagainya tak mau ketinggalan, semua berhias. Seolah penuh bumi kita ini dengan warna merah dan putih. Pemandangan rutin di bulan ini. Riuh–rendah bisa kita rasakan, sampai–sampai para pedagang asongan di pinggir jalan yang menjajakan bendera.

Ya, sebentar lagi RI akan berpesta. Merayakan hari kemerdekaannya, tanggal 17 Agustus. Aroma kebangsaan dan semangat nasionalisme telah terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa ini. Kita bisa merasakan perayaan dan euforianya, termasuk acara panjat pinang yang selalu menjadi andalan. Tapi itu kurang penting, sebelum kita bisa memberi makna lain yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan pribadi kita, baik sebagai seorang hamba maupun seorang warga. Bagaimana?

Jadilah hamba yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Ini adalah kemerdekaan yang hakiki. Hidupkanlah 1/3 malam kita untuk bercengkrama dengan-Nya. Dan alirilah setiap desir darah kita dengan merenungkan ciptaan-Nya. Jadilah hamba yang peduli. Cermatilah dialog Robiah dengan pelayannya. Di musim semi yang indah, Rabi’ah al-Adawiyah menyendiri di pertapaan. Lalu gadis pelayannya berkata, “Wahai Ibu, keluarlah dan lihatlah karya-karya Sang Pencipta,” jawab Rabi’ah. “Lebih baik masuklah! Dan, pandanglah Sang Pencipta itu sendiri. Merenungkan-Nya membuatku tidak sempat lagi memandang ciptaan-Nya.”
Ya, Rabi’ah al-Adawiyah memang telah menjauhkan kalbunya dari duniawi. Selama 30 tahun ia shalat seolah-olah untuk terakhir kali. Saking khawatir kalbunya terusik, dia sering berdoa, “Wahai Tuhanku, sibukkanlah diriku semata-mata hanya dengan-Mu, sehingga tak ada sesuatu pun akan menjauhkan diriku dari-Mu.”

Sebagai warga, jadilah seorang warga yang selalu penuh harapan. Semangat. Selalu husnudhon. Sebab kita punya Allah, sebagai pusat penggantung harapan. Jangan hilangkan harapan baik, ketika melihat situasi bangsa kita yang sedang terpuruk, amburadul. Teruslah hidupkan harapan yang baik. Mari Reach Your Maximum Potential, seperti kisah empat lilin berikut ini.
Lilin pertama berkata, “Aku adalah damai, namun manusia tidak mampu menjaganya. Jadi, lebih baik aku matikan diriku.” Pet! Lilin kedua mulai berkata, “Aku adalah iman. Sayang, aku tidak berguna lagi. Manusia tidak mau mengenalku. Tidak ada gunanya kalau aku tetap menyala.” Tiupan angin pun mematikannya dalam sekejap. Ruangan mulai agak gelap.

Lilin ketiga gantian berbicara, “Aku adalah cinta. Aku tidak lagi mampu untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci pada mereka yang mencintai. Membenci keluarga sendiri.” Lilin ketiga pun padam.
Tiba-tiba, masuk seorang bocah ke ruangan itu. Perasaan takutnya menyergap. Dia pun menangis, takut pada gelap. Tangisan itu tak lama, karena dihentikan oleh lilin keempat. “Jangan takut dan jangan menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita akan selalu dapat menyalakan ketiga lilin lainnya,” kata lilin keempat. Itulah lilin harapan. Dan, bocah itu pun menyalakan ketiga lilin yang telah padam.

Jadi? Mengilas balik kemerdekaan kali ini, semestinya kita tidak perlu mbudek dan mbisu menghadapi keruwetan bangsa ini. Kita masih punya titik terang, sebagai pribadi-pribadi. Jadilah seperti bocah penyulut lilin tersebut dan landasilah seperti Robiah al-Adawiyah. Jika setiap individu – individu ini bersatu, tak akan ada yang bisa menggoyahkan. Apapun bisa kita lakukan. Dan dengan lantang kita berseru sambil meninju: Merdeka….!!! Merdeka dari keterikatan duniawi lainnya, kecuali hanya kepada-Nya.

Aku Malu Menjadi Anak Nurdin Halid

Tribun-Surat buat ayah Nurdin Halid……..Sejujurnya aku malu mendengar sering dihujatnya ayah diberbagai forum dan ditempat-tempat ramai. Diantara mereka semua adalah penggemar sepakbola Indonesia, mereka jengah dengan sikap ayah. Sekian lama ayah telah merusak tatanan sistematik sebuah organisasi, ayah merasa semua milik ayah, tapi sendainya ayah tau itu semua milik bangsa Indonesia bukan milik ayah.

Unjuk rasa dari rekan-rekan Supporter. Foto : cah-pasoepati.blogspot.com

Kenapa aku sangat malu dengan semua itu, karena aku adalah anak ayah, anak dari seorang ayah yang setiap harinya dihujat dan dicaci maki. Mendengarnya pun aku sudah lelah dengan semua umpatan orang lain ke ayah. Tidak ada yang sempurna didunia ini, sempurna hanya milikNya.

Apakah ayah diam saja ketika orang berkata ayah adalah Anjing budheg?
Apakah ayah diam saja ketika orang berkata ayah adalah setan??
Apakah ayah diam saja ketika orang lain berkata ayah orang gak tau malu??
Aku lelah mendengarnya yah, aku jenuh, aku kecewa dengan ayah….
Berkata pun aku sudah tidak sanggup, haruskah aku memasang badan untuk membela ayah?? Sepertinya tidak mungkin. Ayah sepertinya diam saja, ataukah komunikasi itu tidak ada lagi?

Semua orang membenci ayah, dari semua golongan, pejabat, bahkan anak kecil yang baru tau tentang sepakbola pun tidak sungkan mencaci maki ayah. haruskah martabat keluarga dihancurkan kembali?? aku sudah terlampau malu dengan sikap ayah selama ini.
Kasus korupsi itu. Dua kali ayah terperangkap di penjara yang sunyi, haruskah untuk yang ketiga kalinya?? Aku tidak mau. Apa yang ayah cari lagi?? apakah ayah tidak bosan mengumpulkan uang dari korupsi?? kasihan rakyat…….
Sekali lagi aku benci ayah, dan semua teman ayah di organisasi sepakbola Indonesia itu……
Aku benci Ayah…………….
Opini dari : Edy Apriyanto Sudiyono
*Artikel tersebut juga di muat di Kompasiana.com

Sabtu, 07 Agustus 2010

Kereta Api Malabar! Romantisme Aremania dan Bobotoh

Kereta Api Malabar, yang mengabadikan secara akronim kedua nama kota yaitu Malang dan Bandung, adalah sebuah inspirasi tersendiri bagi nawak-nawak Aremania di Bandung yang tergabung dalam Arema Parahyangan. Sejarahnya, KA Malabar yang mulai beroperasi sejak 30 April 2010 lalu, merupakan bekas KA Parahyangan yang berhenti beroperasi pada tanggal 27 April 2010 karena dianggap sudah tidak menguntungkan lagi.
KA Malabar yang melayani jalur Malang – Bandung, merupakan rangkaian kereta unik, dengan 2 gerbong eksekutif, 3 gerbong bisnis, dan 2 gerbong ekonomi. Jadwal keberangkatan dari Stasiun Bandung setiap pukul 15.30 WIB dan tiba di Stasiun Malang pukul 8.11 WIB. Dari Stasiun Malang berangkat pukul 13.30 WIB dan tiba di Stasiun Bandung pukul 08.37 WIB.

Kereta Api Malabar, penghubung transportasi Malang dan Bandung

KA Malabar menjadi simbol hubungan kedua kota yang mempunyai keterikatan emosi yang cukup kuat dengan Arema Parahyangan. Malang sebagai kota kelahiran, tempat asal, dan kampung halaman, sedangkan Bandung adalah tempat untuk menimba ilmu, mencari rejeki, dan melanjutkan hidup. Menempuh perjalanan darat selama 17 jam, dengan ongkos murah, dan kenyamanan yang tidak kalah dengan transportasi lain, membuat KA Malabar menjadi pilihan untuk mencapai Malang dari Bandung, dan begitu pula sebaliknya.

Menjadi Aremania di basis Bobotoh, sebuah hal unik yang menjadi salah satu kebanggaan kami sebagai Aremania perantauan. Kami dapat hidup berdampingan dengan Bobotoh yang seolah-olah dilahirkan memang untuk menjadi pendukung fanatik Maung Bandung. Tak kalah fanatiknya dengan gnaro Ngalam yang juga menjadi pembela setia Singo Edan.

Namun dengan segala isu yang berkembang akhir-akhir ini, membuat kami sedikit banyak merasa tidak nyaman. Ketidaktentraman tersebut menyusul akibat kurang harmonisnya kedua suporter yang dahulunya tidak punya sejarah pertikaian sama sekali. Sejak awal kompetisi musim 2009/2010, dengan segala argumentasi siapa yang memulai kemelut terlebih dahulu, tentu masing-masing pihak merasa bahwa kubunya-lah yang menjadi korban oleh pihak satunya. Apabila hal ini terus-menerus diungkit-ungkit hanya untuk mencari kambing hitam, maka tidak akan ada penyelesainnya, justru kemelutlah yang semakin meruncing.

Mungkin KA Malabar belum dapat menyaingi ketenaran KA Matarmaja yang beberapa kali menjadi sejarah sebagai sarana transportasi perjuangan Aremania mendukung tim kebanggaan Arema Indonesia dalam laga kandang di ibu kota dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Namun, besar harapan agar KA Malabar dapat menghubungkan kedua suporter biru berbeda kota tersebut. KA Malabar mampu menjadi kereta cinta penuh perdamaian untuk Aremania dan Bobotoh.

Berakhirnya musim kompetisi 2009/2010 ini, tak membuat dinamisasi kedua suporter terhenti. Baik secara individu maupun kelompok, Arema Parahyangan melakukan pendekatan-pendekatan kepada Bobotoh, pun sebaliknya. Keberadaan Arema Parahyangan yang semakin solid di Bandung telah diketahui oleh Bobotoh, tepatnya beberapa pentolan Viking Persib Club. Respon mereka pun cukup hangat mengetahui bahwa di daerahnya terdapat sekumpulan Aremania, pendukung setia Arema Indonesia. Aremania di Bandung telah bergerak, lalu bagaimana dengan nawak-nawak di Ngalam khususnya?

Terlepas dari kedekatan masing-masing suporter biru dengan suporter warna lain, sehingga hampir terlihat menjadi dua blok yang saling berseberangan. Hendaknya kedua suporter biru ini menjadi peredam segala kemelut, bukan semakin memperparah keadaan. Permasalahan dengan suporter lain cukup menjadi masalah satu suporter saja. Dalam hal ini bukan berarti kami menyetujui permusuhan antar suporter! Hanya untuk meminimalisir gesekan dengan suporter yang sebelumnya tidak punya sejarah permusuhan, Aremania dan Bobotoh misalnya. Kultur kedua suporter biru yang hampir sama hendaknya menjadi pemersatu di atas segala perbedaan.

Segala kesalahpahaman yang pernah terjadi ketika laga di Malang, maupun dalam tour Jakarta (30 Mei 2010) tidak secara serta merta dilakukan oleh masing-masing suporter. Kurangnya komunikasi dan kesan ‘membiarkan’ gesekan-gesekan kecil di kalangan grass root ini menyebabkan sebuah trauma yang cukup sulit dihilangkan bagi suporter. Sehingga butuh waktu dan usaha keras untuk benar-benar menjadikan hubungan Aremania – Bobotoh seperti sedia kala, yang guyub, rukun dan harmonis!

Secara pribadi Arema Parahyangan cukup jengah dengan yel-yel rasis yang terjadi pada tanggal 18 Juli 2010 saat penayangan langsung pertandingan 8 besar Piala Indonesia antara Arema Indonesia dan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang. Kami menyesalkan nyanyian yang jelas-jelas didengarkan oleh Bobotoh (dalam hal ini Viking). Mungkin hal tersebut cukup biasa sebagai dinamisasi suporter di lapangan, namun bagi Arema Parahyangan yang cukup ‘baik-baik saja’ selama hidup berdampingan dengan Bobotoh, ikut merasakan tersentil dengan yel-yel tersebut. Kami tahu, paling tidak ada pihak-pihak yang merasa tersakiti. Sama halnya dengan kami yang juga merasa sama tersakiti kala mendengar rasisme di Stadion Siliwangi maupun Stadion Si Jalak Harupat. Lalu sampai kapan tindakan yang ‘terlalu kreatif’ ini akan berlanjut?

Ketika Arema Indonesia memenangkan pertandingan dalam leg pertama tersebut, beberapa Bobotoh mengucapkan selamat kepada kami. Kami membalasnya dengan ucapan minta maaf atas ulah nawak-nawak di stadion. Toh, pada kenyataannya hubungan Aremania – Bobotoh di Bandung masih dalam kondisi bersahabat. Walau ada saja yang anarkis secara verbal terhadap kami, itu pun kami yakin bahwa yang berbuat seperti itu adalah suporter yang tidak dewasa, dan tidak mengenal kami secara personal. Pada intinya, kami dapat hidup berdampingan dengan Bobotoh, di Bandung, kota mereka.

Semoga dengan dibukanya akses Malang – Bandung secara langsung dengan KA Malabar ini menjadi babak baru dimulainya pendewasaan suporter. Aremania dapat berkunjung ke Bandung, begitu pula Bobotoh dapat leluasa mengunjungi Aremania, ketika tidak sedang bertanding sekalipun!

Mohon nawak-nawak Aremania dimanapun berada dapat merespon tulisan berdasarkan kondisi nyata ini, sebagai upaya perdamaian antar Aremania dan Bobotoh. Jangan sampai kedua suporter ini menjadi korban propaganda pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ingat, kita adalah suporter, bukan gangster! Jabat Erat, Kabeh Dulur!
Terima Kasih untuk PT Kereta Api!
Salam Satu Jiwa!
(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

NB: Terima kasih untuk rekan-rekan Viking yang telah menerima kedatangan ayas sebagai Aremanita secara welcome pada tanggal 17 Juli 2010, bertepatan dengan Hari Jadi Viking Persib Club ke-17.

Tulisan di atas adalah tulisan rekan-rekan Aremania yang redaksi ambil dari TRIBUNAREMANIA.COM bagian dari media ONGISNADE.NET, dan semoga menjadi bahan perenungan untuk kedua Supporter (Aremania dan Bobotoh)